Rabu, 01 Desember 2010

Menghina = Berteriak Bahwa Kita Hina

Ini pertama kali human, membuat posting sendiri. 
Tidak. Tidak copas, kawan. Ini murni.
Maka dari itu human membutuhkan kritik dan saran dari kawan kawan. 
Simak ya!

Menghina? Secara bahasa tidak formal ala Jakarta, menghina bikin dosa coy! Ala Solo, menghina, mboten sah dipun tindakaken. Ala politikus, menghina adalah hal yang tercantum dalam undang undang dan setiap warga negara tidak diperkenankan menghina (human hanya mengarang, human rasa tak ada pasal tentang menghina. Kalau memang ada, tak ada masyarakat yang hidup diluar bui. Karena, menurut human, setiap orang pernah menghina -atau bahasa jawa: NGENYEK, NGETREK NGETREK-, dan bagi pelanggar UU adalah sanksi kurungan)

Cukup

Human punya sedikit kisah untuk di hahahaha.

Katakan saja, Andi dan Budi. Mereka bersahabat. Sangat dekat. Hingga diantara mereka seperti saudara sekandung.

Andi adalah anak majikan kaya raya dan hidup dirumah megah. Budi, 180 derajat, dia adalah anak pembantu keluarga Andi. Bahkan berbeda suku ras dengan Andi. Namun, seperti yang human katakan, mereka dekat seperti saudara kandung meski latar belakang mereka berbeda.

Setiap hari, sepulang Andi bersekolah, mereka selalu bermain layang layang di bukit dekat rumah megah Andi. Mereka tidak memedulikan dari mana mereka berasal. Yang ada hanya persahabatan yang indah. Seringkali Andi membacakan cerita dan kisah kisah pahlawan favorit Budi.
Budi pasti terharu, dan Andi bangga melihat Budi seperti itu. Ia berhasil membuat Budi terpesona. Lalu Andi memberikan hadiah layang layang baru kepada Budi. Budi semakin terharu lalu menangis.

Seperti layaknya pelayan rumah tangga biasa: Budi memasak, menyapu, mencuci piring, menyetrika dan apalah yang sering dilakukan pembantu. Hanya saja dalam kasus ini, Budi sangat berbeda dengan pembantu lain. (perbedaannya akan Anda temukan ketika selesai membaca cerita ini)

Suatu ketika, Andi malu dengan penampilan Budi yang seperti pemulung didepan teman teman kayanya. Spontan Andi mengenalkan Budi sebagai pembantunya, bukan sebagai teman yang biasa bermain dengannya. Ia menghina penampilan Budi. Budi mengerti. Ia lari dari Andi dan teman kayanya.

Andi bercakap cakap lama dengan teman kayanya. Namun, ia teringat dengan 'pembantunya'. Ia mulai mencari cari. Sampai sore Andi mencari, Budi tak tercari. Andi baru sadar betapa penting 'pembantu' bagi hidup Andi. Ia benar benar membutuhkan teman yang nyata. Ia membutuhkan Budi.

Andi berjalan lemas, pasrah. Ia pulang melewati gang kosong panjang. Tak dikira, beberapa orang dempal berada di tengah tengah gang. Disela sela orang orang dempal, terlihat sosok yang dicari cari, yang benar benar dibutuhkannya. Ia melihat Budi. Ia tidak langsung memasuki gang panjang penuh dengan orang dempal, tapi bersembunyi dan melihat situasi.

Orang orang dempal itu ternyata hendak mengadili Budi hanya karena Budi berbeda suku dengan mereka. Budi tenang. Ketua geng dempal meminta layang layang baru pemberian majikannya. Budi tahu, betapa Andi akan sangat kecewa jika Budi memberikan layang layang itu.
"Ini layang layang pemberian Andi, jangan kau rebut!" Budi menggertak.
"Hah? Tidakkah kau tahu? Dia hanya menginginkanmu menjadi temannya saat dia tidak memiliki teman lain", Ketua geng merayu. Budi teringat akan teman teman kaya Andi.
"Tidak! Andi temanku, dan dia akan menjadi temanku dalam keadaan apapun!" Andi mendengarnya. Ia mulai sadar akan kesalahannya.
"Kau yakin?"
"Andi adalah temanku!"
"Meski aku akan memukulmu dan membuatmu tak bisa berdiri?"
"Andi tetap menjadi temanku! Selamanya!"

Ketua geng mulai bertindak. Budi berusaha melarikan diri, tak berhasil. Bayangkan, anak anak melawan 5 orang dempal! Budi tak berkutik. Tapi apa yang dilakukan Andi? Menonton penuh rasa penyesalan dan hati yang merasa bersalah dari balik semak. Ia takut sahabatnya terluka tapi ia lebih takut dirinya terluka. Sungguh egois.

Inilah, kawan! Jangan sekali kali menghina orang. Kita menghina adalah berteriak: "AKU HINA" didepan khalayak ramai. Kita belajar dari persahabatan Andi Budi yang tidak happy ending ini. Andi, dengan segala keduniawian yang dimiliki, menghina Budi didepan teman temannya. Andi benar benar munafik dalam cerita diatas. Sedangkan, kita belajar lebih banyak dari tokoh Budi: kesetiaan, kepercayaan, keyakinan, dan keteguhan yang tidak dimiliki pembantu pembantu lain.

Kita tidak berhak menghina, apalagi mengadili. Orang pasti punya kelebihan dan kekurangan. Begitu juga human dan kawan kawan ini. Tidak tentu orang yang kita hina adalah lebih buruk daru kita.

Ingat! Menghina = berteriak: "AKU HINA" dikhalayak ramai.

Salam human. hahaha

12 comments:

Langit mengatakan...

Inspiratif kawan, ceritanya menggugah nilai moral

yup, benar ketika kita menghina kita juga ikut memaki diri kita sendiri,,
nice,,

salam blogger,:)

Nuy mengatakan...

"Kita tidak berhak menghina, apalagi mengadili. Orang pasti punya kelebihan dan kekurangan. Begitu juga human dan kawan kawan ini. Tidak tentu orang yang kita hina adalah lebih buruk dari kita"

suka sama kata-kata ini... :X

technozy mengatakan...

Yap bener banget menghina = berterriak bahwa kita hina. hahaha

Anton Wijaya mengatakan...

Tinggal cari produser aja gi kawan, agar cerita si andi dan budi ini di sinetronkan,hahaahaa..

Salam persahabatan bak andi dan budi.

Sang Cerpenis bercerita mengatakan...

setujuu....keren juga tulisannya

[achen]ا شين mengatakan...

waduh yang menghina mas human siapa neh... :emosi:

Muhammad Chandra mengatakan...

menghina adalah suatu perbuatan yang keji , krna segala sesuatu yg ada di muka bumi ini adalah milik tuhan YME :)

lanjutkan utk menulis postingan sendiri sob.. :))

MUSIK RADIO mengatakan...

sangat2 tidak wajar klo kita menghina,,,,sebab itu bisa di artikan menghina ciptaan Sang_Pencipta yang Maha Kuasa....

ARaLL mengatakan...

sedapat mungkin untuk saling menghidari kata2 hinaan,,, :|

Tomo mengatakan...

wah bagus kawan jika tidak copasan.
malah ini yang lebih baik hehe

kisah abu nawas mengatakan...

salam sobat
jangan menghina kalau tidak ingin dihina

Ibnunu mengatakan...

iya sob bener tuh ane setuju kalau kita menghina sama saja dengan menghina diri kita sendiri :)

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger